Bu Muslimah Dalam Film Laskar Pelangi

Bu Muslimah Dalam Film Laskar Pelangi

 Laskar Pelangi,Filam fenomenal yang Diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh penulisnya sendiri,menceritakan kisah masa kecil anak-anak kampung dari suatu komunitas Melayu yang sangat miskin di daerah belitung. Anak dari  orang-orang yang serba kekurangan ini mencoba memperbaiki masa depan dengan menempuh pendidikan dasar dan menengah di sebuah lembaga pendidikan yang puritan. Bersebelahan dengan sebuah lembaga pendidikan yang dikelola dan difasilitasi begitu modern pada masanya, SD Muhammadiyah-sekolah penulis ini, tampak begitu papa dibandingkan dengan sekolah-sekolah PN Timah (Perusahaan Negara Timah). Mereka, para native Belitung ini tersudut dalam ironi yang sangat besar karena kemiskinannya justru berada di tengah-tengah gemah ripah kekayaan PN Timah yang mengeksploitasi tanah ulayat mereka.

Diantara Banyak pemeran dalam film laskar pelangi Dua karakter guru  yang ditampilkan adalah Bu Muslimah dan Pak Arfan. Bu Muslimah yang memiliki nama lengkap N.A. Muslimah Hafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid. Dia adalah Ibunda Guru bagi Laskar Pelangi. Wanita lembut ini adalah pengajar pertama Laskar Pelangi dan merupakan guru yang paling berharga bagi mereka. Guru yang penyabar dan bewatak keibuan ini sangat disuaki oleh para murid nya

Di mata Andreas Hirata gurunya itu telah membentuk mereka hingga menjadi seperti sekarang ini. Karakter gurunya digambarkannya saat mereka menghadapi berbagai persoalan di sekolahnya, melalui sejumlah kisah yang dialaminya saat menjalani masa Sekolah Dasar di kampung.

Di bawah bimbingan kedua guru mereka, Laskar Pelangi mengarungi hari-hari menyenangkan, tertawa dan menangis bersama-sama,dalam suka maupun duka.

Bu Muslimah yang memberi nama geng mereka sebagai Laskar Pelangi, akan kesenangan mereka terhadap pelangi – pun sempat mengharumkan nama sekolah dengan berbagai cara.

Bu Muslimah pernah berkata bahwa guru yang mampu menyampaikan pelajaran kehidupan pada siswanya adalah guru yang berhasil dalam pengajaran. Dan guru yang mengajarkan kehidupan tidak harus pintar. kata dia, seorang guru juga harus bijaksana. Murid dengan karakter, pendiam, usil, pintar, lambat mengerti adalah
tantangan bagi seorang guru. Guru yang bijak bisa memahami keinginan murid-muridnya.

Bahkan pemerintah terkesan dan menggajarnya dengan penghargaan Satya Lencana Pembangunan dan Satya Lencana Pendidikan.

 

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: